Mengintip Kopi Arabika di ‘Saku’ Komandan Belanda

Kopi Arabika yang berlabel “Java Ijen Raung”, yang lahir dari tanah dataran tinggi yang ada di daerah yang populer dengan sebutan “Republik Kopi”, yakni Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, beberapa tahun ini sudah menjadi idola pecinta kopi di dunia.

Kopi Arabika mulai ditanam di kawasan dataran tinggi Ijen dan Raung Bondowoso, tepatnya di Blawa sekitar tahun 1830-1870 silam.

Pada tahun 1895, tercatat rumah administratur dibangun di Blawan. Tahun itu juga, mulai dibangun pabrik kopi disebelahnya. Setelah Blawan, pada tahun 1927, kebun Jampit juga mulai didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda.

Saat itu, situasi Hinda Belanda diketahui mengalami krisis ekonomi dan terjadi tanam paksa yang dikomando oleh Raja Wilem I di Belanda.

Secara umum, di abad ke 16, pada kisaran waktu antara tahun 1686-1696, kopi Arabika mulai ditanam di Hindia Belanda, yang kini menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Mengintip sejarah masuknya bibit kopi Arabika ke Hindia Belanda, dalam buku yang ditulis K David (1999) dengan judul “Home Coffee Roasting, Romance and Revival” mengisahkan Mayor of Amsterdam, Nicholas Witsen, meminta komandan Belanda, Henricus Zwaardecroon, yang bertugas di Selata Malabar untuk mendatangkan bahan tanam kopi dari Malabar, India, ke Hindia Belanda.

Bibit kopi pertama yang didatangkan saat itu, langsung ditanam di Kadawoeng, dekat Batavia, yang kini bernama Jakarta.

Bibit yang ditanam kali pertama di bumi Batavia itu, gagal dipanen karena gempa bumi dan banjir melanda.

Namun, Henricus Zwaardecroon tak putus harapan. Cita-cita yang ada dalam pikirannya untuk menanan ‘biji emas’ di tanah Hindia Belanda terus menghantuinya.

Akhirnya, di ‘saku’ Henricus, diisi biji bibit kopi Arabika yang kedua untuk kembali ditanam di tanah Indonesia tahun 1699. Biji kopi itulah yang menjadi cikal bakal tanaman kopi di seluruh perkebunan kopi Arabika di Indonesia.

 

Usai ditanam, 12 tahun kemudian, tepatnya tahun 1711, tiba saatnya panen. Dengan sigap, perusahaan perdagangan milik pemerintah Hindia Belanda atau yang dikenal dengan sebutan Vereninging Oogst Indies Company (VOC), langsung melakukan ekspor pertama dari Jawa ke Eropa.

Ekspor kopi Arabika yang dilakukan pada tahun 1720 tercatat 116,687 pounds, dan pada tahun 1724 tercatat 1396,486 pounds.

Jumlah itu, termasuk termasuk kategori negara pertama di luar Ethiopia dan Arabia yang menghasilkan kopi Arabika dengan jumlah terbanyak.

Kehadiran kopi di lereng Ijen dan Raung, dinilai cukup memberikan kehidupan lebih berwana bagi warga yang ada di sekitar hutan, seperti yang dialami warga Desa Kampung Baru, Kecamatan Sempol, Bondowoso.

“Kopi sudah menjadi kekuatan ekonomi bagi masyarakat di Kampung Baru ini,” aku Wiwik Indah Rahayu, salah satu warga Desa Kampung Baru, Kecamatan Sempol, saat ditemui TIMESIndonesia, beberapa pekan lalu.

Selain itu, di desa tersebut, kopi juga sebagai pemberian atau sumbangan dalam acara-acara seperti pernikahan dan lainnya.

“Bahkan bagi warga disini, kopi digunakan sebagai obat penyebuh. Misalnya, jika ada seseorang menderita pening, minum kopi Arabika bisa sembuh,” cerita perempuan lulusan salah satu perguruan tinggi swasta di Kabupaten Situbondo itu.

Bahkan katanya, jika ada luka kecil berdarah, kopi juga bisa sebagai penutup luka tersebut. “Ada sebagian orang perempuan yang mengalami kesulitan dalam melahirkan, anggota keluarganya memberi minuman kopi manis untuk membantu memperlancar proses kelahiran bayi,” katanya.

Sementara itu, dalam hasil penelitian tentang kopi, walaupun perlu penelitian lebih lanjut, kopi juga dapat mengurangi risiko kematian akibat penyakit kardiovaskuler seperti jantung dan stroke.

Risiko diabetes melitus juga lebih rendah  pada penikmat kopi, bahkan penelitian yang dilakukan di Asutralia setiap tambahan satu cangkir kopi yang minum kopi setiap harinya akan mengurangi risiko diabetes sebesar 7 persen.

Seorang pakar dari harvard University, Dr Rob Van Dam menyebutkan, bila mengkonsumsi sejumlah kopi, kemudian mengalami efek samping kafein seperti tremor, berdebar, gangguan tidur, merasa stres, gelisah atau tidak nyaman, dia menilai karena telah minum kopi secara berlebihan.

“Semoga pemerintah Kabupaten Bondowoso terus mendampingi warga menjadi kualitas kopi yang ada di Bondowoso. Karena kopi itu ada pada kualitasnya,” nilai Wiwik.

Dia juga berterima kasih kepada pemerintah Bondowoso karena telah menjaga kualitas kopi Arabika dengan bukti pada 28 Februari 2013 silam, secara resmi mengajukan permohonan pendaftaran perlindungan Indikasi Geografis (IG).

“Saat ini tinggal bagaimana petani kopi menjaga kualitas kopi yang ada di Bondowoso. Karena kopi Bondowoso sudah dikenal dipenjuru dunia,” ujarnya.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here