3 Vendor Dominasi Pasar Smartphone Indonesia (Catatan Akhir Tahun 2016)

Selama tahun 2016 tercatat tiga vendor yang sukses mempertahankan posisinya di pasar smartphone indonesia hingga akhir tahun. Vendor lainnya saling berjibaku memperbutkan pangsa pasar yang tersisa.

Indonesia masih menjadi pasar yang ‘seksi’ bagi para vendor smartphone. Selain karena jumlah penduduknya yang besar, penetrasi smartphone di negara ini juga terbilang belum maksimal. Terlebih lagi pentrasi smartphone 4G, yang memang layanan akses internet super cepat ini masih dalam tahap berkembang di Indonesia.

Tidak mengherankan jika riuh pasar smartphone di Tanah Air masih sangat terasa selama tahun 2016. Ada beberapa vendor yang terus ‘tancap gas’ untuk bisa meraup pangsa pasar lebih besar lagi, ada vendor yang terus berupaya berjuang untuk bertahan, bahkan ada pula yang harus mundur menyerah.

Di awal kuartal tahun ini (Q1 2016) pasar smartphone di Indonesia sempat mengalami penurunan dibandingkan dengan kuartal sebelumnya (Q4 2015). Ini berdasarkan dari lembaga riset International Data Corporation’s (IDC). Sepanjang Q1 2016 ada sekitar 6,5 juta unit smartphone yang tersebar di pasar Indonesia. Angka ini turun 22,25 dibandingkan dengan kuartal sebelumnya, namun dibandingkan kuartal yang sama tahun lalu (Q1 2015) pertumbuhan 2,7% year on year.

Baca Juga:  Review Asus Zenfone Go ZB690KG : Phablet Dengan Berbagai Daya Tarik

“Para vendor mengurangi jumlah pemasaran smartphonennya salah satunya akibat imbas dari turunnya penjualan smartphone pada Q4 2015, sehingga menyisakan stok banyak hingga Q1 2016” ujar Reza Haryo, Senior Market Analyst, Client Devices IDC Indonesia.

Namun di kuartal kedua (Q2 2016) iklim smartphone di Indonesia kembali bergairah. Masih menurut data dari IDC, sepanjang Q2 2016 terjadi pertumbuhan sebesar 22% dibandingkan kuartal Q1 2016. Atau sekitar ada 7,9 juta unit smartphone yang beredar di kuartal kedua tahun ini. Sedangkan jika dibandingkan dengan kuartal yang sama tahun lalu (Q2 2015), mengalami peningkatan 3%. Pertumbuhan di kuartal ini juga dipicu oleh pemasaran smartphone via bundling dengan operator yang meningkat hingga 166% dibandingkan Q1 2016. Begitu juga dengan penjualan smartphone secara online yang melonjak hingga 71%.

Menginjak kuartal ketiga (Q3) 2016, ada penurunan pemasaran smartphone di Indonesia. dibanding kuartal sebelumnya. Menurut IDC jumlah smartphona yang dipasarkan turun hingga 7%. Namun jika dibandingkan dengan Q3 tahun 2015 lalu, justru naik sebesar 4%.

Selama Q1, Q2 dan Q3 2016 ternyata pasar smartphone di Indonesia didominasi oleh 3 vendor. Ketiganya sukses menjaga pangsa pasarnya tidak tergeser oleh para pesaingnya. Siapa saja ?

Samsung

Selama setengah tahun 2016 atau hingga Q2 2016, kedigdayaan Samsung belum mampu digoyahkan oleh vendor lainnya. Pada Q1 2016 ketika pasar sedang lesu, vendor adal Negeri Ginseng ini masih mampu untuk meraih tren positif pada penjualan produknya.

Berdasarkan data dari IDC, pada Q1 2016 Samsung kokoh dengan raihan 33% pangsa pasar. Dengan raihan ini, Samsung sukses membukukan peningkatan pangsa pasar sebesar 16% dibandingkan kuartal yang sama tahun lalu.

Menurut IDC ini lantaran Samsung melakukan strategi kampanye dan promosi yang intens. Di mana smartphone Galaxy J series menjadi produk yang mengangkat pangsa pasar Samsung di Q1 2016. Karena smartphone tersebut laris manis di pasaran. Tren positif kinerja Samsung ini masih berlangsung hingga Q2 2016. Di periode ini Samsung meraup 26% pangsa pasar.

Begitu pula di putaran ketiga atau Q3 2016, Samsung masih kokoh bertengger di puncak dengan penguasaan 32% pangsa pasar smartphone di Indonesia. Hal ini sekaligus membuktikan kasus kegagalan Samsung Galaxy Note 7 ternyata memang tidak berpengaruh pada penguasaan pasar Samsung. Ini tidak lepas dari startegi Samsung yang dengan segera mengeluarkan seri smartphone andalan lainnya, seperti Galaxy J7 Prime….

 

Oppo

Vendor lain yang juga berhasil mendongrak performanya yaitu Oppo. Vendor asal Tiongkok ini mampu terus memperbesar pangsa pasarnya di Indonesia. Dari yang sebelumnya di Q4 2015 meraih 21% pangsa pasar, di kuartal awal tahun 2016, Oppo sukses menambah raihannya menjadi 23%. Bahkan jika dibandingkan dengan kuartal yang sama tahun lalu (year in year), kinerja Oppo menunjukkan peningkatan sebesar 187%.

Strategi Oppo yang fokus pada produk Camera Phone dinilai sukses menarik minat pasar. Juga tidak lepas dari strategi lainnya. Seperti memberikan intensif kepada penjual smartphone, agresifnya promosi Oppo juga dibarengi dengan strategi pemanfaatan brand ambassador. Tercatat Oppo beberapa kali menunjuk artis Indonesia yang sedang naik daun untuk menjadi brand ambassador-nya

‘Rapor biru’ Oppo berhasil dipertahankan di Q2 2016, dengan penguasaan pangsa pasar sebesar 19%. Memang terlihat ada penurunan dibandingkan Q1 2016, namun besarnya pangsa pasar di Q2 2016 jauh lebih besar hingga 22% dibandingkan Q1 2016. Atau dengan kata lain, dengan raihan 19% di Q2 2016 Oppo tetap mengalami kenaikan penjualan produknya. Begitu juga ketika memasuki Q3 2016, Oppo berhasil mempertahankan posisi kedua dengan penguasaan pasar sebesar 16,7%. Ini lantaran Oppo mampu menjaga momentum dari produknya. Terutama untuk seri F1s yang bisa bertahan cukup lama. Termasuk dengan mengeluarkan varian F1s Raisa Phone di penghujung tahun. Tidak Cuma itu, Oppo juga merilis seri terbaru yaitu Oppo A39 di akhir tahun. Ini tidak lain untuk menjaga pangsa pasarnya di kuartal akhir 2016 (Q4 2016).

 

Asus

Kinerja Asus di tahun 2015 lalu, ternyata masih menyisakan kesuksesan hingga Q1 2016. Itulah mengapa meski di kuartal ini pasar terasa lesu, namun performa Asus masih terjaga. Di kuartal pertama 2016, Asus sukses membukukan pertumbuhan 24% dibandingkan kuartal yang sama tahun lalu.

Sayangnya di kuartal kedua 2016, strategi Asus untuk memacu pertumbuhan kinerjanya harus tersendat. Lantaran rencana peluncuran produk andalannya Zenfone 3 series harus sedikit tertunda. Lantaran terganjal aturan TKDN (tingkat kandungan dalam negeri).  Namun setidaknya raihan Asus di kuartal ini masih positif, yaitu sebesar 9%. Asus pun harus rela berada di posisi ketiga di bawah Oppo. Di kuartal ketiga Asus pun mulai bangkit dengan langsung memperkenal seri smartphone Zenfone 3 terbaru. Di antaranya yang dirilis yaitu Asus Zenfone 3 ZE520KL , Zenfone 3 Max dan Zenfone 3 Laser.

Seri Zenfone 3 ini ternyata mendapat sambutan positif di pasar. Posisi nomor 3 pun masih bisa dipertahankan di Q3 2016, dengan raihan 8,2% pangsa pasar. Asus pun terus memperpanjang masa hidup dari Zenfone 3 series hingga Q4 2016. Karena produk ini masih laku di pasar. Bahkan untuk menjaga pangsa pasarnya, Asus merilis seri Zenfone 3 ZE552KL dengan layar dan RAM lebih besar dari sebelumnya.

Meski untuk Q4 2016 belum ada laporan yang dirilis, namun dari pantauan pasar di kuartal ini, bisa diprediksikan posisi tiga besar tidak akan berubah. Karena geliat Samsung, Oppo dan Asus di kuartal penghujung tahun masih terlihat. Mereka masih getol memasarkan seri smartphone jagoannya.

Untuk vendor lainnya, mereka ‘saling sikut’ untuk bisa meraup pangsa pasar yang lebih besar. Seperti apa persaingannya ?

Vendor Lainnya

Hanya Samsung, Oppo dan Asus yang sukses mempertahankan posisinya di uruttan pangsa pasar smartphone di Indonesia. Sedangkan vendor-vendor lain masih saling berjibaku memperebutkan pangsa pasar yang tersisa. Mereka pun saling salip-menyalip dalam raihan pangsa pasar.

Di  Q1 2016 dua vendor lokal, Evercoss dan Advan, sempat menguntit ketiga vendor papan atas tersebut. Namun di kuartal berikutnya, Smartfren dengan produk Andromax-nya , serta vendor Lenovo mulai merangsek. Terutama Lenovo, vendor asal Tiongkok ini terasa begitu agresif tahun ini. Vendor yang sebelumnya dikenal sebagai vendor notebook, di tahun ini Lenovo sukses menapakkan pondasi bisnis smartphone-nya.

Ini terlihat dari strateginya mengeluarkan berbagai seri smartphone dengan fitur yang menarik. Diantaranya yaitu fitur Virtual Reality (VR) yang diikutsertakan dalam beberapa seri smartphonenya, seperti Vibe K4 Note, Vibe K5 Plus. Belum lagi fitur kapasitas baterai tahan lama yang di bawa beberapa seri lainnya, seperti Vibe P1 Turbo.

Kerja keras yang dilakukan Lenovo selama Q1 2016 ternyata mulai membuahkan hasil. Buktinya , di kuartal selanjutnya (q2 2016) Lenovo mampu merangsek ke posisi lima besar. Yaitu  dengan meraih pangsa pasar sebesar 6%.

Di tengah persaingan yang semakin ketat, Advan menjadi satu-satunya vendor dalam negeri yang mampu bertahan di antara gempuran vendor luar. Di kuartal pertama tahun ini, kinerja Advan agak kedodoran. Berdasarkan data dari IDC pertumbuhan year on year dibandingkan Q1 2015 masih negatif, yaitu -12%. Namun di kuartal kedua 2016, performa Advan mulai terkoreksi. Vendor ini berhasil meraup pangsa pasar 8%.

Memasuki Q3 2016, menurut dara dari IDC , Advan mampu mempertahankan kinerja positifnya dengan menduduki posisi keempat dengan raihan pangsa pasar sebanyak 6%. Disusul oleh Smartfren pada posisi kelima, yang ternyata smartphone Andromax-nya masih  bertahan di pasar. Selama tahun 2016 strategi Smartfren yang mengeluarkan seri Andromax 4G di kisaran harga di bawah Rp 1 juta, ternyata sukses.

 

Serbuan Vendor Tiongkok

Selama tahun 2016 juga ditandai dengan serbuan beberapa vendor asal Tiongkok. Namun ternyata tidak semua vendor itu yang sanggup bertahan dalam ketatnya persaingan. OnePlus menjadi salah satu korbannya. Hadir di tahun 2014, kelangsungan hidup OnePlus harus berakhir di Indonesia pada bulan Juni 2016. Vendor asal Tiongkok ini resmi menarik diri dari persaingan ponsel di Tanah Air. Ketidak mampuan OnePlus mentaati aturan Tingkat Kandung Dalam Negeri (TKDN) untuk produk 4G, menjadi alasan utama OnePlus hengkang dari Indonesia.

Nasib yang serupa juga harus dialami oleh Xiomi. Xiaomi bisa dikatakan cukup populer di Tanah Air, hanya saja hampir satu tahun ke belakang ini eksistensinya semakin dipertanyakan. Kondisi tersebut tidak lepas dari kebijakan pabrikan asal tiongko tersebut, yang hingga kini masih kekeuh tidak mau mentaati aturan Tingkat Kandungan Dalam Negeri, untuk ponsel 4G. Pada akhirnya kebijakan tersebut membuat langkah Xiaomi di Indonesia menjadi tersendat. Saat ini sebenarnya Xiaomi masih bisa menjual produk baru di Indonesia, hanya saja bisa dipastikan perangkat tersebut tidak memiliki teknologi 4G. Kalau pun sudah 4G, teknologinya tidak bisa diaktifkan, lantaran pertaturan TKDN.

Baca Juga:  Ini Dia Most Valuable 4G Smartphone

Di sisi lain, sebenarnya ponsel 4G Xiaomi seri terbaru sudah banyak beredaran di pasaran, baik secara online mapun di gerai konvensional, tapi bisa dipastikan produk tersebut datang secara ilegal, alias black market.

Karena banyak ponsel terbaru Xiaomi yang statusnya ilegal, konsumen mulai berfikir ulang untuk membeli produk buatan vendor asal Tiongkok ini. Situasi tersebut membuat popularitas Xiaomi di Indonesia pada tahun ini bisa menjadi terpuruk.

Namun ada juga beberapa vendor asal Negeri Tirai Bambu yang mampu menjaga eksistensinya, setidaknya hingga akhir tahun 2016. Contohnya yaitu Infinix yang selama tahun 2016 terlihat gencar mengeluarkan smartphone andalannya. Seperti Infinix Zero 4, Note 3 Pro, Hot 4 Pro, Hot 4, Hot S, Hot 3, Zero 3, Note 2. Infinix pun mengklaim sudah mengantongi sertifikasi TKDN.

Vendor yang masih bertahan lainnya yaitu Coolpad. Vendor ini  mengeluarkan beberapa seri selama tahun 2016. Seperti seri Coolpad Power, Sky 3, Note 5, Max dan di penghujung tahun menjagokan fancy 3.

Selain itu ada pula Meizu. Namun vendor yang satu ini bisa dikatakan  “hidup segan mati tak mau”, bahkan kalah tenar dari vendor Tiongkok lainnya. Namun di akhir tahun 2016 vendor ini langsung menggelontorkan 3 seri smartphone sekaligus, yaitu Meizu Note 3, MX6 dan M5.

Vendor lain yang juga menggebrak menjelang berakhirnya tahun yaitu Vivo. Vendor ini terlihat sangat bergeliat dengan produk andalannya Vivo V5. Vendor ini melakukan kampaye yang terbilang besar-besaran.

Ada pula Huawei, vendor pemain lama ini kembali menunjukkan eksistensinya di akhir tahun. Dengan merilis seri andalannya yaitu Huawei P9 Lite dan Huawei P9. Dengan kehandalan fitur yang dibawanya, terutama pada fitur kamera ganda, Huawei P9 sukses kembali mendongrak pamor vendor ini.

Yang menarik, di tahun 2016 ini dimeriahkan dengan kehadiran vendor brand lama. Yaitu Moto, yang kali ini sudah dikuasai oleh Lenovo yang notebene vendor asal Tiongkok. Moto mengeluarkan smartphone seri E3 Power. Ini menjadi pijakan Moto untuk kembali bertarung di pasar smartphone.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here