Ayam Organik: Hemat dan Sehat

0
350

Pakan memang menyedot biaya besar dalam beternak ayam. ‘Pakan menghabiskan hingga 60-70% modal,’ kata Sahrul Kholis, praktisi ayam di Depok, Jawa Barat. Sebelum beralih ke ternak organik, Mamat menghabiskan 7 ton pakan untuk 3.000 ayam yang dipelihara di kandang bertingkat berukuran 22 m x 6 m selama 30 hari. Namun, sesudah mengadopsi cara organik melalui pemberian probiotik-berisi campuran kapang, bakteri lactobasillus, dan mikroba selulotik-konsumsi pakan menurun menjadi 6 ton. Dengan harga pakan Rp5.150 per kg, Mamat menghemat Rp5,15-juta.

Penurunan jumlah pakan itu terjadi karena pemberian probiotik membuat sistem metabolisme ayam bekerja jauh lebih baik. Sari-sari makanan maksimal diserap tubuh sehingga menjadi daging. ‘Ayam organik sedikit membuang kotoran. Padahal sebelumnya ayam langsung buang kotoran setiap kali habis makan,’ ujar Mamat. Imbas lain dari metabolisme bagus itu adalah kenaikan bobot hidup ayam. Bila semula bobot rata-rata 1,5 kg/ekor, kini mencapai 1,7 kg/ekor. Artinya terdapat selisih bobot 0,2 kg/ekor. Selisih itu bila dikalikan populasi 3.000 ayam, maka diperoleh 600 kg bobot hidup. Dengan harga jual Rp12.125/kg, alumnus D3 Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran itu memetik margin tambahan sebesar Rp7,28-juta.

Nun di Desa Parung, Kecamatan Parung, Bogor, Jawa Barat, Ir Heru Kusriadi juga menuai untung sejak beternak ayam organik pada awal 2008. Di luar pengiritan pakan seperti dialami Mamat, Heru bisa memangkas ongkos pembelian beragam obat dan vitamin.

‘Sebagai gantinya ayam-ayam itu diberikan herbal yang terdiri dari 6-50 bahan herbal seperti lengkuas kunyit, dan bawang putih,’ kata pemilik ternak ayam organik Ponti itu. Dengan biaya obat dan vitamin sekitar Rp500/ekor, untuk memelihara 3.000 ayam pedaging organik di 3 kandang bertingkat masing-masing berukuran 10 m x 7 m, alumnus Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada itu menghemat Rp1,5-juta.

Tren ayam organik

Ayam organik memang dipelihara secara khusus. Selama pemeliharaan ayam mesti bebas dari bahan kimia sintetis. Pakan berupa campuran dedak, jagung, tepng singkong, dan tepung ikan. Vitamin, dan hormon pemacu tumbuh tidak diberikan. ‘Tempat kami juga mensyaratkan ayam bebas vaksin dan antibiotik,’ ujar Christopher Emile Jayanta, pemilik Probiotic Organic (Pronic) di Serpong, Tangerang, Provinsi Banten.

Meski demikian menurut Dr Ir Desmayati MS, peneliti ayam organik dari Balai Penelitian Ternak (Balitnak), Bogor, Jawa Barat, tetap diperbolehkan. ‘Semata-mata untuk menghindari zoonosis (penyakit yang disebabkan oleh hewan, red),’ kata Desmayati.

Usaha pembesaran ayam potong organik yang dilakukan Mamat dan Heru tak lepas dari tren mengkonsumsi daging organik yang tengah marak. Kesadaran masyarakat untuk hidup sehat memicu kondisi itu. Fresh Look-semacam lembaga riset makanan-memprediksi konsumsi daging organik dunia yang bernilai US$2,3-miliar pada 2004 akan naik menjadi US$5,5-miliar pada 2010. Artinya tuntutan mengkonsumsi daging organik seperti ayam semakin besar.

Menurut Edy Soewanto ayam organik mempunyai banyak keunggulan seperti dagingnya berwarna kemerahan, seratnya halus, dan lebih gurih. Ayam organik juga memiliki jumlah protein 2 kali lipat lebih tinggi dari ayam kampung biasa, sekitar 15,15 g/100 g. ‘Mengkonsumsi ayam organik menyehatkan karena bebas residu,’ kata pemilik Farming Jaya, peternakan ayam organik di Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, itu.

Dengan kelebihan-kelebihan itu wajar permintaan ayam organik mengalir deras. Menurut Christopher Emile, pada September 2007 Pronic hanya menghasilkan 1.300 ekor broiler organik. Kini meski produksi ditingkatkan hingga di atas 10.000 ekor/bulan, Pronic tetap kelimpungan memenuhi permintaan.‘Salah satu yang mendorong besarnya permintaan karena ayam organik cocok dikonsumsi penderita autis,’ kata Chris yang menyasar pasar eksklusif seperti Ranch Market, Kem Chick, Carrefour, Healty Choice, dan Hero itu.

Harga tinggi

Selain iming-iming ceruk pasar yang besar, harga jual ayam organik menjadi daya tarik lain. Chris, misalnya, menjual ayam organik dengan harga Rp40.000-Rp45.000/kg karkas. ‘Harga tinggi ini karena kami benar-benar menjaga kualitas ayam organik,’ katanya. Peternakan ayam organik Ponti menjual dengan harga lebih rendah sekitar Rp24.000/kg karkas. Namun, harga itu masih lebih tinggi dibandingkan harga ayam pedaging biasa Rp22.000-Rp23.000 per kg. ‘Itu harga promosi karena kami sedang memperluas pasar,’ kata Firdaus, kepala peternakan itu.

Meski beternak ayam organik menggiurkan, batu sandungan tetap menghadang. ‘Sejauh ini kami sulit mengontrol kualitas DOC (ayam umur sehari, red) sehingga seringkali pertumbuhannya tidak seragam,’ kata Firdaus. Kalaupun ada yang memproduksi DOC berkualitas, tapi jumlahnya terbatas.

Soemini Mardi Harjo, peternak ayam kampung organik di Bojonggede, Bogor, menginden sekitar 1,5 bulan untuk memperoleh DOC berkualitas. ‘Produksi DOC ayam kampung dari farm sekitar 15.000 per bulan. Padahal permintaan sampai 2-3 kali lipat,’ ujar Hidayat dari Jimmy Farm, pemasok DOC di Cipanas, Cianjur, Jawa Barat.

Persaingan tidak sehat antarpeternak menjadi kendala lain pengembangan usaha ayam organik. ‘Promosi jelek tentang ayam organik pernah kami alami. Mereka (produsen lain, red) menuduh kami memakai bahan kimia, tapi pada akhirnya kualitas yang berbicara,’ ujar Chris. Jika beternak ayam organik sudah menjanjikan keuntungan, apalagi yang harus ditunggu? (Dian Adijaya S/Peliput: Faiz Yajri dan Tri Susanti)

Mamat Rohmat hemat pakan Rp5,15- juta dari pakan setelah beternak ayam organik

^ Daging ayam organik lebih gurih, berserat halus, dan bebas residu

> Vaksin tetap bisa diberikan pada DOC untuk menghindari zoonosis

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here