Batik Ambulu Jadi Salah Satu Cluster UMKM Yang Dikembangkan Bank Indonesia di Jember

0
16

Batik merupakan salah satu warisan budaya Indonesia yang telah diakui seluruh dunia. Dan saat ini batik telah menjadi ciri khas seluruh masyarakat Indonesia. Hampir di setiap daerah sudah mulai berkembang dengan karakter khas untuk memenuhi permintaan pasar. Sayangnya tidak semua dapat bersaing di pasar global, karena keterbatasan faktor ekonomi dan akses jaringan.

Melihat potensi besar ini, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jember mendorong dibentuknya cluster batik Ambulu, sebagai upaya untuk mengembangkan sektor ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal.

Hari ini, kita menggandeng Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Dinas Koperasi dan UMKM, Universitas Jember, Asosiasi Pembatik Jember untuk program LED (Local Economic Development) dengan membentuk cluster batik Ambulu, terang Hestu Wibowo, Kepala KPW BI Jember usai perjanjian kerja sama, Rabu (19/12/2018).

Menurut Hestu, dipilihnya cluster batik ini sudah melalui kajian yang dilakukan oleh Universitas Jember. Dari sekian banyak potensi yang ada, kerajinan ini memiliki potensi yang cukup baik untuk dikembangkan dalam skala nasional hingga internasional.

“Awalnya kita kajian produk unggulan di Jember. Ada batik, kuliner, peternakan dan lain sebagainya. Setelah dikaji mengerucut pada batik. Hal ini karena menjadi produk unggulan secara nasional,” terangnya.

Pengembangan cluster ini, juga untuk memunculkan corak yang menjadi ciri khas Kabupaten Jember. Hal ini dirasa penting, karena merupakan warisan budaya Indonesia yang sudah diakui oleh dunia, sehingga masing-masing daerah harus memiliki corak khas sendiri.
BI Jember, kata Hestu, akan melakukan pendampingan mulai dari hulu ke hilir. Mulai dari perencanaan, produksi hingga pemasaran.

Imam syafii Ketua Asosiasi Pembatik Ambulu (ASPA) menyampaikan, dalam kurun waktu dua tahun terakhir, di Jember mengalami perkembangan yang cukup pesat. Saat ini ada sejumlah usaha ekonomi kreatif yang sudah berkembang. “Untuk di Ambulu, sudah ada sekitar delapan titik yang menjadi sentra batik,” terangnya.

Sejauh ini, kata Imam, produksi yang dihasilkannya mayoritas masih dipasarkan di pasar lokal saja. Hal tersebut dikarenakan minimnya akses pasar yang bisa ditembus.

“Mayoritas masih lokal. Ada untuk komoditi ekspor, tapi belum banyak. Masih tidak sampai 50 persen yang keluar negeri. Tapi alhamdulillah bisa menembus Kanada, karena ada komunitas Indonesia di sana yang rindu akan batik Indonesia,” terangnya.

Imam berharap dengan adanya cluster ini, selain bisa meningkatkan produksi khas Jember juga diharapkan dapat memperluas pasar global, sehingga batik khas kota tembakau ini semakin dikenal di mancanegara. (*)