H. Muhammad Arum Sabil, ”Sinder” Pembuka Belenggu Petani Tebu

0
399

Pada 1972, industri gula di wilayah North Dakota dan Minnessota, Amerika Serikat (AS) terguncang akibat bangkutnya American Crystal Sugar Company (ACSC), sebuah pabrik gula terbesar di AS saat itu. Hal ini mengancam kehidupan petani gula bit di wilayah itu.

Alddrich Bloomquist, Ketua Asosiasi Petani Gula Bit di wilayah tersebut berpikir keras untuk menjawab: ”Bagaimana menyelamatkan industri gula bit yang menjadi sumber kehidupan mashyarakat di wilayah itu sejak lama?” Sebanyak 1.300  petani kemudian  bersepakat untuk membeli ACSC dengan harga USD 86 juta atas bantuan lembaga keuangan.

Setelah diambil alih, perusahaan malah berkembang pesat dengan jumlah pemilik 3.000 petani gula bit. Produksinya 2 juta ton/tahun. Gagasan para petani bit ini kemudian melahirkan konsep yang dikenal dengan New Generation Cooperative. Universitas North Dakota lalu memberikan penghargaan kepada Al Bloomquist yang dilembagakan dalam Al Bloomquist Lecture.

Di Indonesia, rasanya tak sulit menemukan tokoh seperti Al Bloomquist. Adalah Ketua APTRI H. Muhammad Arum Sabil sudah terbukti bisa mendobrak belenggu petani tebu Indonesia. H. Muhammad Arum Sabil adalah putra dari pasangan Rochib (almarhum) dengan Ny. Sariah alias Sariati. Ia lahir di Desa Manggisan, wilayah perkebunan Kalitengah, Kecamatan Tanggul, Kabupaten Jember, pada 20 Juni 1966. ”Saya lahir dalam suasana pergolakan masyarakat ketika ”pembersihan” sisa-sisa pengikut G-30-S/PKI,” katanya.

Kedua orang tuanya yang sehari-harinya sebagai buruh tani, membuat sulung dari 5 bersaudara ini sejak kecil harus ikut bekerja keras. Dalam usia 5-6 tahun, ia justru diajari ”leles” (mencari nafkah dengan mengumpulkan sisa-sisa hasil panen yang terlewatkan oleh pemilik sawah) untuk menambah kebutuhan hidup sehari-hari.

Menginjak usia 5 tahun, Arum mengikuti orang tuanya indah ke Perkebunan Zelandia (sekarang wilayah PTPN XII). Di Zelandia ini, mengeyam pendidikan sekolah TK, sebelum akahirnya pindah mengikuti orang tuanya ke Dusun Curahbira, Manggisan. Di Curahbira, Arum masuk sekolah Madrasah Ibtidaiyah (MI).

Belum genap setahun sekolah di MI, Arum pun harus mengikuti orang tuanya pindah lagi ke Desa Patemon, Tanggul. Di sini ia masuk SDN Patemon, dan pindah lagi di SDN Tanggul Kulon IV hingga kelas 3 SD. Menginjak kelas IV, Arum pindah sekolah lagi dan masuk SDN Tanggul Wetan VI hingga lulus kelas VI pada 1980.

Semangatnya untuk bisa tetap sekolah tampak sejak duduk di bangku SD. Kondisi ekonomi orang tua yang pas-pasan, nyaris membuatnya putus sekolah. Makanya, sejak kelas 3 SD, Arum bersekolah sambil menjual kue-kue buatan ibunya. ”Kue itu saya jajakan ke teman-teman saat istirahat. Ini saya lakukan hingga tamat SD,” ceritanya.

Dengan biaya sendiri, Arum kemudian melanjutkan sekolah di SMP Bina di Tanggul Kulon. Usahanya pun sudah berubah, menjadi tukang foto keliling di luar jam sekolah. ”Kamera yang saya peroleh dari paman saya jadikan modal berusaha,” ungkapnya. Dari kamera itu, Arum Sabil banyak belajar menyiasati untuk bisa membuat banyak foto.

Dari satu film, dengan cara menahan jepretan dan menutup sisanya memakai kertas kemudian hasilnya dipotong. Dengan cara itu, ternyata mendapat keuntungan dua kali lipat dari biasanya. Melalui aktivitas memotret ini pula, Arum SAbil banyak belajar filosofi hidup dari cara kerja sebuah potret.

Menurut Arum Sabil, untuk memperoleh hasil kerja yang bagus, pemotret harus memperhatikan angel (sudut pengambilan gambar), pencahayaan, diafragma, dan assa. Ketika semua instumen itu diramu dengan baik, maka akan menghasilkan jepretan yang baik. Begitu halnya dalam kehidupan.

”Untuk memperoleh prestasi hidup yang cemerlang, seseorang harus pandai-pandai memanfaatkan potensi dan peluang yang ada,” ungkapnya. Melalui aktivitas foto keliling, Arum Sabil banyak mengenal orang dan belajar bagaimana seseorang bisa sukses. Suatu saat, ia bertemu dengan seorang juragan tanah.

Dalam hatinya, ia bertanya-tanya, bagaimana seorang buta huruf ini bisa menjadi konglomerat kelas Kabupaten Jember hanya dari bisnis tanah. Belajar dari pemilik lahan luas di sekitar kampus Universitas Jember (UNEJ) itulah, Arum Sabil berkesimpulan, ”Apapun pekerjaan seseorang jika dilakukan dengan tekun dan jujur, akan berhasil.”

Dengan modal kamera manual itulah, Arum Sabil akhirnya mampu menyelesaikan sekolah hingga luluas SMP. Di bangku SMP itu, bakat kepemimpinannya mulai terlihat. Hal ini dibuktikan dengan terpilihnya Arum menjadi Ketua OSIS ketika masih dukuk di kelas 1, dan terpilih kembali saat duduk di kelas 2 dan 3.

”Cita-cita saya sederhana, hanya ingin menjadi sinder atau mandor sebuah perkebunan besar. Naik kuda kelilng mengontrol kebun, bergaul dengan petani, pakaian rapi, dan mengenakan topi mandor, rasanya keren,” ucapnya. Dan, ternyata kelak di kemudian hari cita-citanya itu pun tercapai sudah.

Selepas dari SMP pada 1983, Arum melanjutkan sekolah di SMU PGRI Tanggul. Di sinilah ia mengenal Rasmiati, gadis asal Desa Rejoagung, yang kemudian dinikahinya setelah lulus SMA pada 1986. Dari hasil pernikahannya dengan Rasmiati, ia dikaruniai 3 anak: Fikri Andikaputra, Rizky Ayuningati, dan Sabirina  Amalia Sabil.

Lulus SMA, Arum Sabil lalu bekerja di PTPN XXIII (kini PTPN XII) sebagai pengamat hama dan penyakit tanaman. ”Itu saya anggap sebagai langkah awal ke posisi sinder,” katanya. Belum genap setahun bekerja di BUMN itu, pada 1987, ia lalu bekerja di PT HAS Farm yang mengelola perkebunan kakao dan karet milik swasta di Kalimantan.
Melihat kinerja Arum Sabil, dua tahun kemudian, perusahaan memberinya posisi sebagai mandor besar, sampai akhirnya dia memutuskan untuk mengundurkan diri pada 1990 karena perusahaan merugi, untuk kemudian bergabungdi PT Barito Pacific Timber (1990-1992) milik Prayogo Pangestu, juragan kayu dari Singkawang.

Kerinduan akan kampung halaman dan tanggung jawab mendampingi sanak keluarga, membuat Arum akhir 1992 memutuskan mengundurkan diri dari Barito dan mudik ke Tanggul untuk bekerja sebagai petani tebu. ”Prinsip saya, apapun pekerjaan seseorang asalkan halal, dilakukan dengan tekun dan jujur, maka akan berhasil,” tuturnya.

Arum Sabil memulai usaha tani tebu dengan modal awal lahan kebun seluas 05 hektar. Pengalamannya sebagai pengamat hama dan penyakit tanaman di PTPN XXIII dan ilmu perkebunan di PT HAS Farm membuat usaha taninya meraih kemajuan. Ketrampilannya sebagai tukang potret keliling pun ditekuninya kembali.
Kali ini berkembang dan mendapatkan order dari sekolah ke sekolah. Hampir semua sekolah di Jember ditanganinya. Puncaknya, saat alumni Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Jember pada 2006 ini diberi kepercayaan Pemda untuk pemotretan foto KTP, karena proyek pemotretan sebelumnya mengalami kegagalan.

Berkat pesanan foto KTP inilah yang membuat tabungan Arum semakin bertambah dan secara finansial semakin mandiri. Luas lahan garapan tebu pun semakin bertambah, sebagian merupakan lahan milik sendiri yang dibelinya dari petani di lingkungannya, sebagian lagi menyewa lahan tanah kas desa (TKD) di seputar Jember.

Dalam perjalanannya sebagai petani, Arum Sabil merasakan bahwa petani tebu telah diperlakukan secara tak adil. Pola hubungan antara petani tebu dengan Pabrik Gula (PG) bukan dalam kerangka kemitraan, tapi bersifat sub-ordinat. Apalagi, saat menjelang berakhirnya orde baru, pemerintah memberlakukan liberalisasi tata niaga gula.

Pada saat itu, Arum berpikir situasi ini tak bisa dibiarkan. Ia berusaha berkomunikasi dengan para pejabat PG dan Pemda. Tapi hasilnya nihil, sementara petani kian hari semakin terjepit.  Maka, ”Satu-satunya jalan, saya harus menyampaikan aspirasi petani tebu ini ke DPR di Jakarta,” katanya.

Bersama tokoh petani tebu Jember, pada 1997, Arum Sabil membentuk tim petani tebu. Pada medio 1998, ia mengusulkan pembentukan Paguyuban Petani Tebu Rakyat (PPTR) di wilayah PG Semboro, Jember. H. Rofik ditetapkan sebagai Ketua Umum dan Arum Sabil (kala itu tergolong yunior dalam masalah pertebuan) sebagai Pembantu Umum.

Pembentukan PPTR itu mendapat respon positif dari Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Jawa Timur yang menyarankan agar membentuk PPTR atau Asosiasi Petani Tebu Rakyat (ATPR) pada masing-masing PG. Maka, pada akhir 1998, atas fasilitasi Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan itu terbentuklah PPTR dan APTR di setiap PG.

Saat pertemuan PPTR se-Wilayah Kerja (Wilker) PTPN XI di PG Semboro pada pertengahan 1999, Arum Sabil terpilih sebagai Ketua APTR PTPN XI. ”Anugerah demonstrasi solo itu menjadikan saya dikenal banyak pihak,” katanya. Peristiwa ”demonstrasi solo” adalah saat Arum mengadukan nasibnya ke DPR sendirian.

Di tangan Arum Sabil, APTR Wilker PTPN XI yang memiliki 17 PG berhasil diwujudkan sebagai kekuatan yang mampu memberi tekanan kepada pemerintah agar mengeluarkan kebijakan yang protektif dan berpihak kepada petani tebu yang jumlahnya ratusan ribu hingga jutaan.

Semisal, lahirnya SK Menperindag Nomor 61 Tahun 2004 mengenai pelarangan perdagangan gula antar-pulau, SK Gubernur Jatim mengenai pelarangan pembongkaran gula impor di wilayah perairan Jatim. Terbitnya sejumlah regulasi yang memberikan perlindungan kepada petani tebu itu sedikit banyak disokong gerakan Arum Sabil.

Keberhasilan APTR Wilker PTPN XI menjadikan Arum Sabil semakin dipercaya sebagai tokoh perjuangan petani tebu. Sehingga pada 11 Maret 2003, atas inisiatif PPTPR dan APTR unit, dibentuklah Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) dan Arum terpilih sebagai Ketua.

Kata Arum Sabil, APTRI itu dibentuk atas aspirasi petani tebu sebagai sarana perjuangan petani tebu dalam skala nasional. Keanggotaannya juga terbuka bagi para petani tebu se-Indonesia. Melalui APTRI itu, kiprah Arum sebagai simbol perlawanan petani tebu semakin nyata.
Perlawanan praktek impor gula ilegal, penyelundupan gula, usulan pembatasan impor, dan keharusan aparat untuk menindak tegas importer nakal terus dikumandangkan. Tak salah bila Arum Sabil dikatakan sebagai tokoh sentral dalam usaha membangkitkan Industru Gula Nasional (IGN), sekaligus membangun kejayaan petani tebu.

Di tangan Arum Sabil pula, terbentuk kerjasama antara APTRI dengan PT AGS pada 2001. Sistem ini berupa pemberian dana talangan kepada para petani oleh PT AGS dan PT AGS mendapatkkan insentif dari kerjasama tersebut.

Menurut Arum Sabil, industri gula nasional mempunyai prospek yang cukup baik. Apalagi, harga gula internasional belakangan ini semakin naik. Kondisi tersebut dipicu oleh perubahan-perubahan perilaku negara-negara produsen besar gula dunia, seperti Brazil dan Australia, yang semula hanya memproduksi gula, tapi belakangan mulai memproduksi ethanol sebagai pengganti BBM. ”Harga minyak dunia dulu kan pernah tembus di atas USD 70/barel, bahkan bisa lebih dari USD 100/barel,” ungkap Arum Sabil.

Mereka tak lagi memproduksi gula, tapi ethanol. Dan, ”Ini sudah menjadi kebijakan di negara-negara maju. Di Brazil, misalnya, karena harga minyak dunia tinggi, pemerintahnya mewajibkan untuk menggunakan ethanol. Produksi ethanol dari pabrik gula di sana sudah hampir di atas 50 persen, bahkan, ada yang 100 persen. Inilah yang menyebabkan terjadinya krisis gula dunia. ”Hal inilah yang membuat kenaikan harga gula dunia, yang dampaknya sangat berimbas sekali dalam gula dalam negeri,” kata Arum Sabil.

”Ternyata tebu ini adalah energi internasional. Karena bahan baku ethanol juga dari tebu,” ungkap Arum Sabil. Produk lain dari tebu yang berupa molasis bisa menjadi bahan baku ethanol. Bahan ini berbanding 30 persen. Misalnya, untuk molasis 1.000 kg, bisa menjadi ethanol 300 kg. ”Yang menjadi pikiran saya, dibandingkan dengan negara-negara lain, tanah kita ini subur. Apalagi, irigasi dan iklim ini lebih bagus,” lanjutnya.

Selain itu, tenaga-tenaga petani Indonesia juga sudah banyak yang terampil. Bahkan, anak-anaknya sudah banyak yang punya ilmu pertanian. ”Tapi kenapa kita tidak punya daya dan upaya, padahal peluang itu sangat banyak sekali,” tutur Arum Sabil. Menurutnya, di sini perlu dilakukan jalinan kerjasama antara petani, pengusaha, dan pemerintah.

Yang belum ada adalah bagaimana payung kebijakan dalam rangka pemetaan sistem bercocok tanam karena sistem pemetaan ini erat kaitannya dengan sistem pertanian yang benar. Mulai dari penanaman, hama, begitu juga menyiapkan kualitas, kuantitas, dan kontinuitas dari produksi pertanian tersebut.

”Pemerintah perlu segera melakukan pemataan. Karena, sekarang ini terjadi kepanikan petani dengan penanaman yang sembarangan,” kata Arum. Selain itu, pemerintah harus menyiapkan teknologi. Bagaimana pemerintah yang tak punya kemampuan finansial bisa menarik pengusaha untuk menginvestasikannya.

Jadi, tugas pemerintah dalam bidang pertanian itu setidaknya ada tiga: Payung hukum (erlindungan dan penataan); Teknologi yang dipersiapkan; Riset dan penelitian. ”Jangan sampai petani kita yang menanam tidak bisa menuai hasilnya. Karena yang ditanam itu bibit-bibit yang tidak sesuai keinginan petani sehingga menuai kerugian,” lanjutnya.

Kebutuhan gula nasional baik untuk konsumsi langsung rumah tangga maupun industri akan terus meningkat sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk. Pada 2014 kebutuhan gula nasional mencapai 5,700 juta ton. Untuk memenuhi kebutuhan gula tersebut diupayakan meialui Program Swasembada Gula Nasional.

Secara kuantitatif sasaran yang ingin diraih adalah tercapainya Swasembada Gula Nasional pada tahun 2014 dengan target produksi hablur sebesar 3,571 juta ton dari existing dan 2,129 juta ton dari perluasan dan pembangunan PG baru.

Pada 2005 lalu produksi nasional gula mencapai sekitar 2,3 juta ton/tahun, hampir mencapai 2,4 juta. Berarti kebutuhan konsumsi rumah tangga saja sudah bisa terpenuhi oleh produksi gula dalam negeri. Bagi Arum, yang perlu dipikirkan, ”Bagaimana berpikir untuk memenuhi kebutuhan industri mamin.”

Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, menurut Arum Sabil, pemerintah telah menerapkan kebijakan mendirikan pabrik-pabrik Gula Ravinasi yang berbahan baku gula mentah (raw suger). Kapasitasnya sudah hampir melampaui 1 juta ton/tahun. Sedangkan bahan baku raw suger itu sendiri hampir 100 persen diimpor dari luar negeri.

Namun celakanya, yang terjadi industri mamin itu justru masih diberi izin melakukan impor rivine suger sebagai bahan baku mamin tersebut. Sehingga yang terjadi saat ini masih banyak pabrik gula ravinasi kesulitan menjual produksi gulanya yang sebenarnya khusus untuk mamin.

Melihat kenyataan tersebut, kata Arum Sabil, membuat iklim usaha yang tak kondusif. Karena kesulitan industri gula ravinasi memasarkan produknya, sehingga menyebabkan banyak gula yang bocor dijual ke pasaran bebas. ”Ini yang sudah dikhawatirkan petani bisa merusak harga gula,” katanya.

Mengapa bisa mendistorsi harga? Arum Sabil mengatakan, karena industri gula ravinasi dalam melakukan impor bahan bakunya rata-rata mendapatkan fasilitas keringanan bea masuk 0-5 persen. Ini butuh pengawasan dari pemerintah bagaimana agar terjadi iklim usaha yang kondusif sesuai dengan misi didirikannya industri tersebut.
”Jangan sampai pabrik gula ravinasi maupun industri mamin melakukan peran ganda. Artinya, satu sisi mereka memproduksi tapi juga menjual langsung dalam bentuk raw suger,” kata Arum Sabil yang kini sudah menjadi ”sinder” APTRI itu. Misalnya, kapasitas terpasang 1.000 ton tahun dibuat sampai 10.000. ini yang pernah terjadi.

Selama ini memang sudah ada pengawasan, tapi yang mengawasi itu juga manusia, bukan malaikat. Jadi, kalau kembali lagi ke masalah pertanian, lahan kita subur, petani punya kemampuan menanam yang baik, dan anak-anak petani sudah punya ilmu. ”Yang tidak dimiliki petani adalah teknologi dan riset,” katanya.
Di sisi produksi, dari sebanyak 52 PG (33 diantaranya di Jatim), pada 1998 produksi gula nasional waktu itu hanya sekitar 1,5 juta ton/tahun. Pada 1999-2000 berkembang isu pabrik gula mau ditutup karena tak efisien. Sehingga pada 2001-2002 kebangkrutan secara massal menimpa para petani dan industri gula nasional.

Dan pada 1998-1999 terjadi kekacauan gula, para petani menjadi bulan-bulanan gula impor, sehingga lahirnya organisasi petani (APTRI). Berkat kepiawaian Sinder Arum ASbil, lahirlah SK Menperindag Nomor 643 – kini berubah menjadi Nomor 643 – yang punya komitmen untuk membantu petani industri gula.

Kebijakan tersebut telah mampu membangkitkan kembali nadi dari industri gula yang hampir mati pada saat itu. Dan membangkitkan juga harapan petani tebu yang hampir pupus. ”Sebab, dampak dari harga gula di dalam negeri yang betul-betul sangat terdistorsi oleh banjirnya gula impor yang datang secara ilegal,” tutur Arum Sabil.

Menurutnya, ada beberapa manfaat yang langsung dirasakan para petani tebu dengan lahirnya kebijakan tersebut. Pertama, tak ada ruang gerak bagi para penyelundup karena  sangat mudah dideteksi. Kedua, pendapatan negara dari devisa meningkat, dari semula hanya Rp 300 miliar. Setelah lahirnya SK itu hampir mencapai di atas Rp 1 triliun.
Ketiga, impor gula yang sebelumnya untuk rumah tangga dan industri, akibat dampak dari SK tersebut, impor tak sampai 300 ribu ton/tahun. ”Mungkin ke depan tidak lebih dari 300 ribu ton lagi,” ungkap Arum Sabil. Dengan berkurangnya impor, sehingga cerminan produksi dalam negari dari 1,5 ton (1988), pada 2005 mencapai 2,4 juta ton.

”Berarti dalam kurun waktu 6 tahun ada kenaikan produksi gula nasional hampir 900 ribu ton karena petani bergairah menanam tebu. Sehingga PG gula ada margin untuk memperbaiki pabriknya,” kata Arum Sabil. Sebagai gambaran, untuk 1 PG dengan kapasitas 10.000 tcd (ton chane day) itu dibutuhkan areal sekitar 20 ribu hektar lahan.
Dengan areal seluas itu akan menghasilkan gula sekitar 150 ribu ton/tahun dengan  nilai investasinya sekitar Rp 1,2 triliun. ”Bisa dibayangkan, kalau 1 PG dnegan produksi gula 10.000 ton, maka yang dibutuhkan hanya dengan selembar SK yang bisa efektif jika dibarengi dengan penegakan hukum,” lanjut Arum Sabil.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here