Ketika Pers Dibungkam

0
580

Ketika Pers Dibungkam
(curhatan Redaktur Majalah “istismar”)

Beberapa hari ini LIK, Lembaga Informasi dan Komunikasi Berduka. Sepatutnya kita mengucapkan “Innalillahi Wainna Ilaihi Rojiun”. Karena sesuai Firman Allah, jika sedang menghadapi kematian, ujian, kesusahan, dan musibah kita dianjurkan, bahkan wajib mengucapkan kalimat itu.

Akan timbul pertanyaan siapa yang mati? Ujian apa yang sedang terjadi? Kesusahan seperti apa yang sedang dialami? Dan pasti timbul pertanyaan juga, musibah apa sih yang dimaksud?

…………

Eit tunggu dulu. Saya ingin memperkenalkan diri dulu. Berawal dari kesukaan saya nongkrong dengan saudara Fahrudin (sekarang menjadi Redaktur JemberMu.com), semasa kuliah bahkan hingga detik-detik menjadi bujangan. Tidak banyak yang bisa diceritakan memang, tapi pertemanan ini menarik saya lebih dekat dengan Muhammadiyah.

Sangat kaget ketika saya ditawari satu jabatan menantang, yaitu menjadi Redaktur Majalah “istismar” Majalah Muhammadiyah Jember. Dalam kacamata saya, “istismar” ini adalah produk pers yang memiliki idealisme Kemuhammadiyahan yang kental. Terbukti, sejak saya mendalangi penggarapan Majalah Edisi 47 (cover H.Kusno) saya merasa produk pers istismar memang harus idealis.

Proses penggarapan majalah edisi 48 (cover Ustad Abu-belum resmi terbit) lebih serius namun tidak terburu-buru. Berbeda dengan edisi 47 yang terkesan diburu deadline, edisi 48 sangat slow motion.

Sempat terjadi perdebatan. Antara menerbitkan atau tidak Majalah “istismar” 48. Pasalnya dana untuk cetak tidak cukup dan jumlah tulisan masuk yang tidak sesuai target. Namun beruntung pada 13 Oktober 2016 file Siap Cetak telah masuk ke meja Percetakan, yaitu di Percetakan PT Temprina Media Grafika (Jawa Pos Group).

Namun saya sangat heran, karena sampai tanggal 22 Oktober 2016 Majalah belum selesai. Pada tanggal 22 Oktober saya berisiatif mengirim pesan singkat kepada Pemimpin Redaksi  (Maghfur El Muhammady), melalui Telegram Mesenger dalam bahasa jawa “piye kabare majalah? Kapan dadi jare?” (pesan terkirim pukul 4.26 PM). pesan balasan dari beliau tercatat masuk pada esoknya, tanggal 23 Oktober pukul 12.22 AM, dengan jawaban sangat mengejutkan “Perubahan rencana. Covere disuruh ganti karo pak xxxxx (diakhiri dengan emoticon menundukkan kepala tanda menyesal”.

Saya langsung membalas, “opoo dirubah? Sg dirubah apane?” dan dibalas kembali, “cover dirubah, jangan menampilkan Ustad Abu Hasan, untuk isi tetap”.

Kurang puas dengan jawaban saudara Pemimpin Redaksi, saya coba berkirim pesan ke Grup Whatshap Mesengger. Pada 23 Oktober 2016 pukul 3.18 AM “maksudte piye pak? Opoo covere dirubah? Alasane opo? Opo gara2 covere ustad Abu? Kok iso ngerti?”

Pertanyaan saya tersebut langsung dijawab saudara Redaktur JemberMu.com, “Bocor” (dengan diakhiri 3 emoticon menangis tanda sedih-kecewa). Lantas saudara Pemimpin Redaksi ikut menjawab “iyo, aq laporan pak xxxxx karo mas xxxx. Mas xxxx oke, pak xxxxx njaluk diganti” (kalimat diakhiri dengan emoticon tersenyum disertai pipi memerah tanda merasa semua baik-baik saja).

Pasca itu, sempat beberapa kali Pemimpin Redaksi meminta saya mengganti cover majalah sesuai dengan yang diminta pak xxxxx. Namun saya menolak, dan kekeuh menyatakan bahwa cover tidak bisa dirubah karna sudah patent dan sudah masuk ke percetakan.

Penasaran dengan dialog singkat tersebut, saya nekad menyambangi Percetakan PT Temprina Media Grafika. Pada 25 Oktober pukul 8.15 AM. Di kantor percetakan saya menemui P. xxxxx, beliau mengatakan bahwa isi sudah dicetak dan cover pun sudah jadi. Majalah siap di bendel.

Namun beliau mengatakan bahwa bendel masih dipending. Karena menunggu materi Cover yang baru. Saya langsung meminta melihat langsung ke lokasi dimana cover memang terlihat sudah tercetak. Tinggal dipotong dan dibendel dengan isi.

Selaku Redaktur Majalah “istismar” saya merasa ada sesuatu yang tidak beres dalam runtutan peristiwa ini. Menurut saya ada beberapa point penting:

Pertama, Keputusan sepihak tanpa melalui Rapat Redaksi adalah keputusan yang tidak berlaku, khususnya dalam organisasi media penerbitan. Karena pengambilan keputusan tertinggi adalah melalui Rapat Redaksi yang dipimpin Pemimpin Redaksi.

Kedua, adanya campur tangan pihak-pihak diluar Redaksi hendaknya tidak menyangkut hal-hal substantif. Cukup sampaikan melalui saran dan kritik yang membangun. Bukan hal yang bersifat intervensi, apalagi sampai merubah produk media. Disini harus dipahami bersama.

Ketiga, perlu adanya kesepahaman. Bahwa kerja-kerja redaksi adalah Proporsional-Independen. Jika pers sudah dibatasi, maka ruang gerak redaksi untuk mengungkap kebenaran akan tersandera. Media akan tersandera oleh kepentingan pihak-pihak tertentu.

Keempat, borok adalah penyakit yang harus disembuhkan bukan dibiarkan. Jika borok tidak segera diobati, maka penyakit akan lebih parah dan bisa memusnahkan Kebenaran itu sendiri.

Terakhir, kami ingin semua pihak mulai menyadari. Kita adalah organisasi besar. Kita sudah dewasa dan harus dewasa menyikapi perubahan, perbedaan, maupun benturan (distorsi). Kita harus bersatu untuk satu kepentingan, yaitu membangun masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Dan bukan memperjuangkan kepentingan pribadi, suka dan tidak suka, atau untung dan rugi.

Kalbar Zulkarnaen, SE
Redaktur Majalah “istismar”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here