Kopi Robusta Jawa Timur

0
603

Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf mengatakan ada permintaan dari Polandia untuk mengekspor kopi ke negara tersebut. Permintaan itu disampaikan di sela pertemuan bisnis di Olivia Business Center, Gdanks, Polandia antara Pemerintah Provinsi Jawa Timur dengan beberapa pengusaha Provinsi Pomerania, Polandia kemarin, 25 November 2016.

“Alhamdulillah dapat respon positif untuk bisnis kopi Jawa Timur,” katanya Saifullah ketika dihubungi Tempo, Sabtu, 26 November 2016.

Selama ini, kata Saifullah, pengusaha-pengusaha pembuatan kopi kemasan di Polandia mendapatkan pasokan bahan mentah  dari Brazil. Namun para pengusaha tersebut juga meminati kopi dari Indonesia. “Saya kemarin tawarkan kopi robusta,” katanya.

Menurut Konsul Kehormatan Polandia di Surabaya yang juga bos Kopi Kapal Api, Soedomo Mergonoto,  robusta adalah kopi andalan Indonesia. “Mereka (Polandia) minta segera dikirim contoh kopi dari Indonesia,” kata Soedomo.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur secara maraton mengadakan pertemuan dengan pemerintah Provinsi Pomerania, wilayah bagian utara Polandia. Tiba di Gdanks, kota tempat Lech Walesa memimpin revolusi melawan penguasa komunis setempat, rombongan bertemu Deputy Marshal (Gubernur) Wieslaw Byczkowski.

Dalam pertemuan itu Saifullah yang didampingi sejumlah kepala dinas, pengusaha dan perwakilan Kamar Dagang dan Industri Jawa Timur mendapat penjelasan tentang potensi bisnis di provinsi itu. Malam harinya, delegasi dijamu makan malam oleh Gubernur Mieczyslaw Struk.

Di sela-sela jamuan makan malam, ditandatangani rencana kerja (working plan) antara Jawa Timur dengan Promenia. Di dalamnya disepakati kerjasama antara kedua provinsi untuk bidang maritim, perikanan, pertanian, pengolahan makanan, logistik, dan transportasi, industri dan perdagangan.

Juga disepakati rencana kerjasama di bidang pendidikan, riset, penelitian ilmiah, pariwisata, budaya, dan kesehatan. Dalam rencana kerja yang berlaku sampai 2018 itu, kedua pihak bersepakat untuk meningkatkan kerjasama melalui berbagai kegiatan, termasuk perdagangan, bertukar pengalaman di bidang maritim, perikanan, dan perkapalan.

Kopi Robusta Ijen Raung Kuasai Pasar Eropa

Produksi kopi Indonesia saat ini masih kalah dari Vietnam, namun untuk pasar ekspor kopi Indonesia masih cukup bagus. Bahkan, kopi jenis arabika asal Bondowoso yakni dari Gunung Ijen dan Raung Jawa Timur kini mampu menembus pasar ekspor di beberapa negara Eropa seperti Swiss dan Belanda.

Untuk pasar global, kopi arabika masih menjadi unggulan Indonesia karena lahan serta hasil produktivitas di Indonesia, khususnya Jatim masih luas dan terus meningkat,” kata Ketua Asosiasi Petani Kopi Indonesia (Apeki) Jatim, Bambang Sriono, Kamis (31/12).

Saat ini Bondowoso masih menjadi sentral kopi arabika di Jatim yang ditanam di lereng Kawah Gunung Ijen dan Gunung Raung. Luas lahan kopi arabika yang dikelola rakyat di kawasan lereng Gunung Ijen dan Gunung Raung di Bondowoso mencapai tujuh ribu hektare yang tersebar di beberapa kecamatan, seperti Sumber Wringin, Sempol, Botolinggo, Cerme, maupun Maesan.

Melihat peluang pasar kopi arabika, pengembangan luas lahan tanam kopi arabika di Jatim juga kini terus diperluas. Seperti di kawasan Pasuruan, Probolinggo, dan Lumajang, bahkan di Pasuruan sudah ada Kopi Khas Kabupaten Pasuruan (Kapiten) yang dikenalkan oleh Pemkab Pasuruan.

Namun untuk kopi arabika Ijen dan Raung, saat ini masih menjadi salah satu kopi kualitas terbaik yang kini digenjot produksinya. Kopi jenis arabika tersebut diproduksi di wilayah Jember, Banyuwangi, Lumajang, Situbondo, dan Bondowoso. “Kualitasnya terbaik. Harganya juga cukup bagus. Jenis Arabika ini per kilogram (kg) nya sekitar Rp 60 ribu. Karena potensial, maka kami berupaya terus mengembangkan produksinya agar dapat meningkat,” kata Kepala Dinas Perkebunan Jatim, Moch Samsul Arifien.

Bahkan, kata Samsul, karena sudah cukup terkenal di manca negara, banyak kopi dari luar Jatim yang di ekspor melalui Jawa Timur. Hal itu dilakukan demi menyandang sebuah nama kopi Jawa Timur. “Kopi Jawa Timur memang telah dikenal di dunia internasional sebagai kopi dengan kekhasan cita rasa yang tinggi. Sebagai contoh, predikat coffee specialty telah disandang oleh kopi Arabika Ijen Raung yang dikenal di luar negeri dengan nama Java Coffee,” ungkapnya.

Sejak tiga tahuh lalu, pihaknya juga mulai mengembangkan Kopi Arabika dengan menanam sebanyak dua juta bibit baru. Pengembangan itu dilakukan di enam daerah yang memiliki dataran tinggi di atas 800 meter di atas permukaan air laut (mdpl), yakni Situbondo, Bondowoso, dan Jember masing-masing seluas 500 hektar, Kab Malang 300 hektar, serta Lumajang dan Kab Probolinggo masing-masing 100 hektar.

Pengembangan produksi kopi Arabika diupayakannya hingga mencapai 2.000 hektare. Pengembangan kopi arabika itu, juga mendapat rekomendasi dari Gubernur Jatim, Soekarwo untuk ditingkatkan lebih besar lagi, karena permintaan pasar yang masih cukup tinggi. Upaya dengan memperluas areal tanam itu juga mendapatkan dukungan dari Asosiasi Petani dan dilakukan dengan menggandeng Perhutani.

Ia menambahkan, permintaan kopi arabika yang harganya tergolong lebih mahal dari pada kopi robusta ini masih cukup tinggi, sehingga potensi pengembangannya kini tetap akan diupayakan. Jika dipersentasekan dari total produksi kopi Jatim, Kopi Robusta mampu mencapai 93 persen dan sisanya 7 persen jenis Arabika. (afr)

 

Tahun 2012 menjadi kebanggaan tersendiri bagi petani kopi di Jawa Timur. Sebab produksi kopi sepanjang tahun 2012 mencatatkan angka dikisaran 61 ribu ton, meningkat 21 ribu ton dari tahun sebelumnya. Dari jumlah produksi di tahun 2012, produksi kopi arabika sebesar 10 ribu ton dengan areal 12 ribu hektar. Sisanya kopi robusta sebesar 51 ribu ton dari areal 88 ribu hektar.
 
Capaian produksi kopi tahun 2012 tidak seperti tahun sebelumnya yang terkendala anomali cuaca sehingga produksi menyusut menjadi 40 ribu ton. Menurut Kepala Dinas Perkebunan Jawa Timur, Ir Samsul Arifien, MMA keberhasilan meningkatkan produksi kopi tahun 2012 tidak lepas dari cuaca yang sangat mendukung untuk tanam kopi. 
 
“Produksi kita pernah jatuh di tahun 2011 karena anomali cuaca di tahun sebelumnya. Dari target 50 ribu ton yang bisa tercapai hanya 40 ribu ton dari areal 90 ribu hektar. Tahun 2012 produksi kita cukup bagus,” kata dia.  
 
Untuk mempertahankan produksi  yang dicapai tahun 2012, di tahun berikutnya Dinas Perkebunan (Disbun) Jawa Timur akan terus mengembangkan areal kopi terutama kopi arabika. Dikatakan Samsul, kebutuhan kopi arabika masih cukup besar. “Untuk kebutuhan kopi robusta kita sudah bisa memenuhinya. Maka itu kita pengembangannya ke arabika,” katanya. 
 
Tiap tahun, Dinas Perkebunan Jawa Timur mengembangkan areal kopi seluas 2000 hektar. Pengembangan dilakukan di daerah dengan ketinggian 1000 meter di atas permukaan laut.  Hal tersebut dikarenakan pada dataran rendah kopi arabika akan sulit berkembang. Samsul menjelaskan Jawa Timur punya potensi untuk mengembangkan kopi arabika. Daerah-daerah di Jawa Timur yang potensial untuk ditanam kopi arabika diantaranya Pegunungan Ijen, Kayumas di kecamatan Arjasa (sekitar 47 km dari kota Situbondo), lereng gunung Semeru, dan lereng gunung Arjuno. 
 
Selain pengembangan, Dinas Perkebunan Jawa Timur juga terus meningkatkan kualitas produksi kopi. Peningkatan itu dengan memberikan bantuan unit pengolahan hasil (UPH) kopi basah.. Tahun 2012, ada 15 unit UPH kopi yang diberikan Disbun Jawa Timur kepada kelompok tani. 4 daerah antara lain masing-masing 5 unit di Jember dan Bondowoso, 2 unit di Malang, dan Situbondo 3 unit. 
 
Samsul mengatakan, pemberian UPH kopi basah dimaksudkan supaya kopi yang dihasilkan petani  mempunyai kualitas ekspor. “Jadi kopi yang diekspor harus diolah secara basah. Artinya biji kopi dipetik, lalu dikupas, dicuci, dan direndam. Setelah bersih kualitasnya lain. Kalau dengan cara konvensional biasanya biji kopi dipetik, digiling,  dan dijemur,” jelasnya.
 
Mengingat hasil kopi robusta yang diolah secara basah lebih baik dibandingkan dengan cara tradisional, maka harga pun relatif tinggi. Samsul menerangkan bila harga kopi yang diolah secara tradisional mencapai Rp18 ribu per kg, lain halnya dengan pengolahan menggunakan UPH kopi basah yang bisa mencapai Rp 23 ribu. “Itu di tingkat petani. Kalau di pasar PT Indokom menjualnya sebesar Rp 27 ribu, karena mereka ada tambahan ongkos transportasi, pergudangan, dan lain-lain, Sedangkan untuk kopi arabika hanya bisa mencapai Rp 45 ribu. ”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here