Sekilas Sejarah Letkol. Moch. Sroedji

0
439

Moch. Sroedji adalah putra dari pasangan Bapak H. Hasan dan Ibu Hj. Amni. Sroedji dilahirkan di Bangkalan-Madura, pada 1 Februari 1915. Istri Sroedji bernama Hj. Mas Roro Rukmini, yang lahir dari pasangan Mas Tajib Nitisasmito dan Siti Mariyam. Dari perkawinan tersebut terlahir 4 orang anak, diantaranya Drs. H. Sucahjo, Drs. H Supomo, Sudi Astuti, Pudji Redjeki Irawati

Pendidikan

Moch. Sroedji bersekolah di Hollands Indische School atau lebih dikenal dengan HIS. Kemudian menimba ilmu di Ambacts Leergang. Ambacts Leergang adalah semacam sekolah pertukangan. Pemerintah Belanda sengaja mendirikan sekolah-sekolah kejuruan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja. Diharapkan, alumni sekolah jenis ini dapat langsung memperoleh pekerjaan sesuai dengan bidangnya.

Bidang pertukangan dibagi menjadi dua. Yang pertama, Ambacthsshool. Sekolah ini menerima lulusan dari HIS, HCS, dan sekolah Peralihan. Berikutnya, Ambachts Leergang, yang menerima lulusan Sekolah Bumiputra Kelas Dua dan vervolgschool. Keduanya memiliki masa pendidikan 3 tahun. Ambachts leergang mencetak tukang listrik, mebel, dan lain-lain, sedangkan Ambacthsshool mencetak mandornya.  Moch. Sroedji menempuh pendidikan di Ambachts leergang.

Sesudah menjalani masa pendidikan formal, pada tahun 1938 sampai tahun 1943, Moch. Sroedji bekerja sebagai Pegawai Jawatan Kesehatan sebagai Mantri Malaria di RS Kreongan Jember (kini menjadi RS Paru).

Karir Moch. Sroedji di Bidang Militer

Moch. Sroedji memulai karir militernya di Jember pada akhir tahun 1943. Semula pangkatnya adalah komandan kompi alias Chuudanchoo (Chuu: menengah, Danchoo: pimpinan/perwira) di Peta Besuki. Jabatan sebagai komandan kompi ia dapat setelah mengikuti Pendidikan Perwira Tentara PETA angkatan I di Bogor (sengkatan dengan Ahmad yani dan Soeharto-sumber sang patriot-red). Begitu lulus PETA, ia ditugaskan sebagai komandan kompi untuk Karesidenan Besuki – Batalyon 1 Kencong – Jember di bawah Daidancho Soewito Soediro.

Moch. Sroedji juga turut berperan aktif dalam memelopori terbentuknya BKR dan TKR untuk wilayah Karesidenan Besuki. Pada bulan September 1945 sampai dengan Desember 1946, ia berturut-turut dilantik sebagai Komandan Batalyon 1 Resimen IV Divisi VII TKR yang berdomisili di wilayah Kencong, Jember.

Renville

Dengan –dianggap– berakhirnya pemberontakan PKI, pimpinan Angkatan Perang negeri ini mulai memikirkan kembali kemungkinan serangan militer Belanda. Gejala akan datangnya serangan Belanda telah nampak. Belanda mangkir dari isi kesepakatan perjanjian Renville.

Perundingan Renville dimulai pada tanggal 8 Desember 1947, dan kesepakatannya ditandatangani pada 17 Januari 1948. Intinya, perjanjian tersebut memuat tiga poin.

1. Belanda hanya mengakui Jawa tengah, Yogyakarta, dan Sumatera sebagai bagian wilayah Republik Indonesia

2. Disetujuinya sebuah garis demarkasi yang memisahkan wilayah Indonesia dan daerah pendudukan Belanda

3. TNI harus ditarik mundur dari daerah-daerah selain yang disebutkan di poin satu.

Sebagai hasil Persetujuan Renville, pihak Republik harus mengosongkan wilayah-wilayah yang dikuasai TNI. Perjanjian Renville banyak ditentang rakyat. Indonesia kacau, dan sejarah mencatatnya.

Jika saja Panglima Besar TNI Jenderal Soedirman (yang kala itu sedang sakit) tidak memiliki kewibawaan yang besar, mungkin banyak para pejuang yang menentangnya. Hijrah, itulah yang akhirnya ditempuh oleh para pejuang. Tidak terkecuali dengan pejuang Jember.

Terhitung sejak Januari 1948, hijrah massal mulai dilaksanakan. Di beberapa tempat (batas wilayah Indonesia sesuai hasil perjanjian Renville) sudah ada panitia yang mengatur dan mendistribusikan jalannya hijrah.

Antara Mei 1948 hingga Oktober 1948, Moch. Sroedji menjadi Komandan Resimen 40 Damarwoelan pada Divisi VIII. Pada tanggal 25 Oktober 1948, sesuai hasil keputusan Menteri Pertahanan RI. No. A/532/42, Resimen 40 Damarwoelan dilebur dan dirubah namanya menjadi Brigade III Damarwoelan Divisi I T.N.I. Jawa Timur.

Survive di Blitar

Tempat pengungsian pasukan Damarwoelan terpencar di berbagai daerah. Namun kemudian dapat disatukan di Blitar. Mereka mengungsi lebih dari 3 bulan. Kesemuanya diurus panitia. Waktu terus bergulir, beban konsumsi dan akomodasi seluruh anggota resimen semakin membengkak. Pada akhirnya, kesemua itu ditanggung oleh Komandan Sroedji.

Wingate Action

Brigade III Damarwoelan Divisi I T.N.I. Jawa Timur mengadakan Wingate Action (dari daerah Blitar ke daerah Besuki) menuju jalur Lumajang – Klakah – Jember – Banyuwangi. Wingate Action tersebut berlangsung selama 51 hari. Menempuh perjalanan panjang, dengan jarak sekitar 500 km.

Sepanjang perjalanan, Brigade Brigade III Damarwoelan Divisi I T.N.I. Jawa Timur mengalami banyak pertempuran. Puncak pertempuran terjadi pada 8 Februari 1949 di Desa Karangkedawung, Mumbulsari, Jember. Letkol Moch. Sroedji gugur di medan perang, setelah berhari-hari bertahan dari gempuran dan kejaran pihak Belanda. Jenasah Letkol Moch. Sroedji dikebumikan di Pemakaman Umum Kreongan. Sementara di bekas wilayah pertempuran dibangun sebuah monumen untuk memperingati apa yang telah terjadi pada 8 Februari 1949.

Letkol Moch. Sroedji di Mata Kita

Ketika melintas di alun-alun kota Jember, tepatnya di depan kantor Pemkab Jember, terdapat sebuah patung yang menjulang tinggi. Patung tersebut mewakili sosok pejuang lokal Jember yang namanya dijadikan nama jalan di wilayah kota. Letkol Moch. Sroedji. Patung tersebut merupakan salah satu simbol perjuangan Jember saat mempertahankan kemerdekaan dari penjajahan Kolonial Belanda. Ia merupakan patriot lokal yang belum banyak didengungkan dalam bangku sekolah. Banyak anak-anak di Jember tidak tahu, siapa sosok yang dijadikan patung di pelataran Pemkab Jember tersebut. Masih sedikit sekali pelajaran sejarah yang membahas tentang perjuangan beliau secara khusus.

Dalam sudut pandang penulisan sejarah baru di Indonesia, definisi pahlawan tidak harus orang-orang besar yang harus memberi pengaruh dalam skala nasional. Dalam tingkat kota sampai desa, seseorang yang berjuang demi kepentingan bersama bisa disebut pahlawan. Keberadaan patung  Letkol Moch. Sroedji bisa dijadikan pemantik rasa ingin tahu untuk mengenalnya lebih jauh. Mengenal kisah-kisah perjuangannya dan kemudian membawa semangatnya dalam kehidupan kita sehari-hari.

Ada banyak sudut pandang yang bisa kita kupas mengenai sosok pahlawan lokal kita yang satu ini. Perjuangannya, kepemimpinannya, rasa nasionalismenya yang kuat dan juga kesetiaannya dalam membela tanah air. Bagaimanakah sosok letkol Moch. Sroedji di mata kita? Di mata masyarakat Jember pada khususnya? Mari berbagi bersama kami. (tim/sal)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here