Tarik Wisatawan, Bondowoso Deklarasikan sebagai “Republik Kopi”

0
501

Untuk menarik wisatawan baik lokal maupun mancanegara, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, mendeklarasikan sebagai “Republik Kopi” dengan mengusung tagline “Ngopi Yuk di Bondowoso”.

“Bondowoso itu surganya kopi, ada potensi besar di sini. Makanya kita garap lebih serius dengan memadukan konsep agrobisnis dan pariwisata, menjadi agrowisata,” ucap Bupati Bondowoso, Amin Said Husni, Rabu (11/5/2016).

Amin mengungkapkan, di Kabupaten Bondowoso, terdapat banyak perkebunan kopi peninggalan kolonial Belanda. “Ada Kebun Belawan, Kalisat, Jampit, Pancur. Kebun itu semua peninggalan era Belanda, dan sekarang dikelola PTPN XII,” ungkapnya.

Menurut Amin, untuk mengimbangi kebun kopi yang sudah ada, Pemkab Bondowoso membuat cluster kopi arabika di lereng Gunung Ijen.

“Cluster ini saya bikin untuk mengangkat harkat petani kopi yang selama ini menggarap kebun kopi di luar lahan PTPN XII. Saya gandeng perwakilan Bank Indonesia Jember, Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia, Perhutani, perbankan, pihak eksportir dan asosiasi petani kopi, untuk mengembangkannya cluster kopi arabika tersebut,” kata Amin.

ARSIP KANTOR BANK INDONESIA JEMBER Cluster Kopi Arabika di Lereng Gunung Ijeng, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur.

Amin menjelaskan, kopi arabika dari lereng Gunung Ijen Bondowoso memiliki rasa cukup khas, karena diproduksi dari alam pegunungan.

“Kopi kami sudah merambah ke luar negeri. Sejak beberapa tahun terakhir, kami sudah ekspor ke sejumlah negara, dan Alhamdulillah mendapat sambutan yang luar biasa dari pasar mancanegara,” ungkap Amin.

Dari keunggulan itulah kemudian, lanjut Amin, Pemkab Bondowoso berani mendeklarasikan diri sebagai ‘Republik Kopi’.

“Wisatawan yang datang ke Bondowoso bisa melihat langsung puluhan ribu hektar kebun kopi Arabika maupun Robusta, dan saya jamin tidak akan rugi,” pungkasnya.

 

Berkunjung ke suatu tempat rasanya tak lengkap jika tak membawa buah tangan untuk kembali. Apalagi jika Anda mampir untuk berlibur menikmati keindahan alam Bondowoso, Jawa Timur, Anda tak boleh melewatkan buah tangan khas kabupaten dengan slogan “The Highland Paradise” dan “Republik Kopi” ini.

Berikut adalah oleh-oleh yang cocok untuk Anda bawa dari Bondowoso:

1. Kopi

Bondowoso baru saja mengklaim dirinya sebagai “Republik Kopi” lantaran antusiasme masyarakat yang tinggi akan tanaman kopi.

“Kopi di Bondowoso istimewa karena di sini kopi tumbuh 1.800 meter di atas permukaan laut, yakni arabika. Selain itu juga tumbuhnya di kawasan Ijen dengan kontur dan kandungan tanah yang berbeda. Jadi cita rasanya berbeda karena ada unsur belerangnya,” ungkap Bupati Bondowoso, Amin Said Husni.

Menurut Amin, kopi juga berjasa mengangkat hajat hidup masyarakat Bondowoso.

2. Tapai

Bondowoso adalah sentra penghasil tapai. Di sini tapai diolah menjadi berbagai jenis makanan. Mulai dari kue, camilan, sampai minuman.

Tapai di Bondowoso memang beda, rasa manisnya legit dan teksturnya kencang! Tak heran tapai menjadi oleh-oleh di Bondowoso semenjak tahun 80-an.

3. Kacang Macadamia

Inilah kacang yang seringkali ada di cokelat-cokelat mahal buatan luar negeri. Bondowoso, tepatnya di kawasan Kalisat-Jampit melalui PT Perkebunan Nusantara adalah penghasil kacang Macadamia.

Sekantung kacang Macadamia harganya Rp 55.000, padahal jika di luar harga kacang macadamia ini relatif tinggi.

Silvita Agmasari Aktivitas pencelupan dan penjemuran batik di Batik Sumbersari, Bondowoso

4. Batik Bondowoso

Bondowoso juga punya batik! Motif khusus batik bondowoso menyesuaikan dengan alam sekitarnya yang dipenuhi tumbuhan singkong, kopi, dan bambu.

Inilah alasan mengapa membeli batik bondowoso, sebab jarang ada daerah yang memiliki motif batik tanaman singkong, kopi, dan bambu bukan?

 

 

Kopi Arabika Bondowoso Juarai Festival Kopi

Kelompok petani Kecamatan Sukosari, Kabupaten Bondowoso menjuarai lomba uji cita rasa pada Festival Kopi Nusantara di lereng Gunung Ijen, Bondowoso, Jawa Timur.

“Yang menjuarai lomba uji cita rasa kopi arabika dalam Festival Kopi Nusantara yang pertama kali diselenggarakan di Bondowoso, yaitu kelompok Suyitno asal Kecamatan Sukosari, Kabupaten Bondowoso,” ujar Direktur Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Jember, Misnawi, salah seorang juri, di Bondowoso, Minggu (24/7/2016).

Ia mengemukakan, peserta lomba uji cita rasa kopi adalah kelompok tani dari berbagai daerah.

Penilaian meliputi kualitas, jaminan suplai kopi, dan juga pelayanan kelompok tani pada pembel, karena harga kopi 90 persen dinilai dari kualitas.

Dalam lomba uji cita rasa pada Festival Kopi Nusantara, kata dia, sementara yang dinilai kualitas kopinya saja karena dari situ, pembeli bisa memberikan aspresiasi kepada petani kopi di Bondowoso.

“Ada keunikan di Bondowoso, karena yang dijual adalah pendatang baru yakni kopi rakyat yang dikerjasamakan dengan Perhutani sehingga lebih sulit pengawasan kepada petani-petani kopi di sini. Oleh karena itu pemerintah daerah dan juga kelompok tani di Bondowoso harus tetap menjaga kualitas kopinya,” katanya.

Suyitno mengaku selama ini bersama dengan kelompok tani di bawah binaannya memproses kopi sesuai dengan prosedur baku mulai dari pemetikan hingga menjadi kopi OC atau berasan.

“Proses yang yang kami lakukan untuk menghasilkan kopi berkualitas tinggi yaitu, petik kopi harus sudah benar-benar masak merah segar, walaupun masak tetapi tidak segar akan disortir. Selanjutnya, kopi merah tersebut digiling pecah kulit. Setelah menjadi kopi OC atau berasan baru direndam dan dicuci, sedangkan kopi yang mengambang kami buang,” paparnya.

Ia menuturkan, proses selanjutnya dilakukan fermentasi selama 36 jam, lalu dijemur setengah kering. Kemudian digiling dan dijemur hingga kering.

Setelah kopi kering, dipilah, kopi kecil dan pecah-pecah disortir, serta yang bagus masuk masuk nomor satu.

“Faktor utama yang menyebabkan kualitas kopi rendah terjadi saat proses panen. Karena terkadang kopi yang masih kuning dan hijau juga dipetik dan itulah kesalahan yang paling fatal,” tuturnya.

Mantan Kapolsek Pujer, Polres Bondowoso itu mengaku bertani kopi sejak 1986. Saat ini sudah ada sekitar 40 ha lahan kopi arabika yang dikelola kelompoknya.

Sementara juara dua uji cita rasa kopi arabika diraih oleh Dinas Kehutanan dan Perkebunan Aceh Tengah, dan juara ketiga diraih oleh Atieq, CV Frinsa Agrilestari KP Mulyana, Pengalengan, Kabupaten Bandunng.

Sebanyak 84 kelompok tani antara lain dari Aceh Tengah, Sulawesi serta Kabupaten Bandun, Jabar, menjadi peserta lomba uji cita rasa pada Festival Kopi Nusantara.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here