Teliti Residu Antibiotik Pada Ayam Broiler, Mahasiswa Fakultas Peternakan Juara I LKTI Nasional

0
740

Mahasiswa Fakultas Peternakan UGM kembali meraih prestasi di bidang karya tulis ilmiah. Muhammad Hidayat dan Sidik Tri Wibowo (Fakultas Peternakan) bersama Zahra Yuniarti, mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian, meraih juara I dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) Nasional Masterpiece 2015 Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro, Sabtu – Senin, 5 – 7 Desember 2015 di Universitas Diponegoro.

Dengan mengangkat judul “Konsumsi Daging Ayam Broiler Bebas Residu Antibiotik untuk Realisasi Indonesia Sehat 2020”, Muhammad Hidayat dkk menuliskan keprihatinan atas kualitas ayam broiler yang dikonsumsi oleh masyarakat. Ayam broiler merupakan sumber protein hewani paling diminati di Indonesia. Lebih dari separuh produksi daging Indonesia, yakni 52,03% berasal dari ayam broiler, diikuti oleh daging sapi yang hanya berada pada kisaran 18,28% dan daging ayam kampung pada kisaran 10,81% (data BPS tahun 2014). Tingginya produksi daging ayam broiler menjadikan komoditas ini menjadi sentral pemenuhan kebutuhan bahan pangan protein hewani asal ternak, di sisi lain harganya yang relatif murah jika dibandingkan dengan bahan pangan daging hewani yang lain.

Namun, menurut Muhammad Hidayat dalam rilis yang dikirimnya Kamis (10/12), kesehatan dan keamanan daging ayam broiler masih bermasalah. Hal ini disebabkan oleh penggunaan antibiotik yang digunakan dalam pakan ayam tertinggal di tubuh ayam broiler menjadi residu. Residu yang tertinggal di tubuh ayam broiler ini berbahaya ketika dikonsumsi oleh manusia secara terus menerus karena bisa berakibat pada resistensi manusia akan beberapa jenis bakteri. Hal ini disebabkan oleh jenis antibiotik yang diberikan pada ternak ayam broiler dan manusia adalah sama. “Resistensi ini bisa mengakibatkan manusia ketika sakit membutuhkan antibiotik dengan dosis yang lebih tinggi atau jenis antibiotik yang lebih mahal dan lebih toksik. Lebih fatal lagi jika sampai terjadi perpanjangan penyakit (prolonged illness) akibat bakteri yang gagal berespon terhadap pengobatan. Hal ini berimbas pada kerugian dari sisi ekonomi maupun kesehatan akibat adanya bakteri yang resisten terhadap residu antibiotik,” jelas Muhammad.

Penggunaan antibiotik pada prinsipnya dapat digantikan dengan fitobiotik yang bersifat lebih aman dan tidak mengandung residu yang membahayakan kesehatan manusia. Fitobiotik yang bisa diperoleh dari berbagai macam tanaman seperti kunyit (Curcuma domestica), jahe merah (Zingiber officinale), mahkota dewa (Phaleria macrocarpa), bawang putih (Allium sativum), dan jintan hitam (Nigella sativa L.) dapat dipakai sebagai alternatif terbaik pengganti antibiotik dalam pakan. Selain berperan sebagai subtitusi antibiotik, fitobiotik juga memiliki efek kesehatan sebagai sumber antioksidan, imunomodulatory, reduksi kolesterol dalam darah, serta manfaat-manfaat kesehatan yang lain. Jika dibandingkan dengan alternatif subtituen antibiotik yang lain (enzim, asam organik, prebiotik, dan probiotik), fitobiotik banyak ditemui di alam dan dapat dilakukan produksi dengan mudah oleh peternak serta dapat menjadi peluang yang baik untuk diproduksi secara massal di industri pakan. Hal inilah yang menjadikan bahan-bahan fitobiotik merupakan alternatif terbaik sebagai pengganti antibiotik untuk menghasilkan produk daging ayam broiler yang berkualitas unggul, aman dan sehat untuk dikonsumsi menuju realisasi Indonesia sehat di tahun 2020. (Humas Fapet/Nadia)

Sumber: http://fapet.ugm.ac.id/home/berita-289-teliti-residu-antibiotik-pada-ayam-broiler-mahasiswa-fakultas-peternakan-juara-i-lkti-nasional.html

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here